
Pandangan Simon Tahamata: Minimnya Kompetisi Usia Muda
Simon Tahamata, Kepala Pemandu Bakat PSSI, menyoroti masalah serius dalam sistem sepakbola Indonesia. Minimnya kompetisi usia muda menjadi penghambat utama dalam pengembangan bakat muda. Sebagai bagian dari strategi PSSI, Simon ditunjuk untuk mencari bibit-bibit pemain muda yang berpotensi, namun tantangan nyata muncul karena kurangnya platform kompetisi yang mendukung pertumbuhan mereka.
Peran Simon dalam Masa Transisi PSSI
Sejak ditunjuk pada awal 2025, Simon menjadi bagian penting dari strategi PSSI saat Timnas Indonesia dipegang oleh pelatih asing dari Belanda. Namun, setelah Kluivert dicopot pada akhir tahun yang sama, Simon tetap bertahan di PSSI, menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendorong pengembangan sepakbola nasional.
Kesulitan dalam Mencari Bakat Muda
Simon menghadapi tantangan nyata dalam mencari bakat muda. Tanpa kompetisi usia muda yang meriah dan berstruktur, sulit untuk menilai dan mengorbitkan pemain muda dengan potensi tinggi. Menurut data liga, Indonesia baru memiliki 5 kompetisi usia muda kelas berat, jauh lebih sedikit dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
Prediksi dan Rekomendasi untuk Masa Depan
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah cepat dari PSSI dan pemerintah. Peningkatan infrastruktur, lebih banyak kompetisi usia muda, dan pengembangan akademi pemain muda harus menjadi prioritas. Simon Tahamata menyarankan kerjasama antar klub, liga, dan asosiasi untuk membangun sistem yang lebih komprehensif.
Dengan perhatian lebih pada kompetisi usia muda, Indonesia dapat menghasilkan lebih banyak bakat muda yang siap bersaing di tingkat internasional. Simon Tahamata, dengan kepemimpinan dan pengalamannya, siap memimpin perubahan ini.












