Toyota Indonesia punya kemampuan untuk memproduksi kendaraan penggerak empat roda (4×4) di Indonesia. Fortuner 4×4 misalnya, sudah lahir dari tangan anak bangsa di pabrik lokal. Namun, mengapa untuk segmen pickup atau kendaraan komersial seperti hilux maupun Rangga, Toyota masih terlihat “menahan diri”?
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengungkapkan bahwa persoalannya bukan terletak pada kemampuan teknis, melainkan pada hitung-hitungan bisnis dan keberlanjutan model tersebut.
“Kalau kita bicara CKD (completely knocked down) menjadi lokal itu perlu ada waktu, volume, skala ekonomi yang mencukupi. 105 ribu (unit) itu sesuatu yang besar, tapi kita harus pikirkan juga timing-nya berapa. Kalau timing-nya hanya 3 bulan, ini kita perlu pikirkan juga,” ujar Nandi di Jakarta, Jumat (6/3/2026).










